//
you're reading...
Uncategorized

Kirim ID


Passionnya Intan sebenarnya apa ?

Delivery.

Rasanya kok tidak keren ya kok passion di dunia pengiriman. Passion itu seharusnya sepatu *denial

Intan Saraswati adalah founder Kirim.co.id yang pada akhir 2012 lalu melakukan rebranding dari nama sebelumnya d’Courier, di tahun 2012 Kirim.co.id mendapatkan pendanaan dari investor lokal.

Pengiriman dalam kota yang cepat dan terpercaya adalah masalah yang banyak dihadapi oleh ecommerce lokal, saya pernah beberapa kali ngobrol dengan pemilik ecommerce yang cukup besar, ia mengatakan kalau kurirnya biasanya sangat kesulitan menemukan alamat dari pembeli sehingga pengiriman terhambat.

Kirim.co.id adalah perusahaan yang memecahkan permasalahan ini. Berdiri sejak tahun 2008 dengan mencocokkan tanggal yang bagus untuk fengshui, siapa sangka di balik pendirian Kirim.co.id terdapat cerita yang sangat panjang di mana Intan berpindah-pindah tempat untuk menjalankan usaha ini, bisnis kurir adalah bisnis yang sulit untuk di-manage karena sifatnya yang padat karya dan berhadapan dengan para kurir yang tentu saja bukan lulusan universitas. Untuk menjalankan bisnis seperti ini membutuhkan kesabaran dan empati yang luar biasa.

Intan berbagi banyak hal dari pandangannya tentang investor, bagaimana expertise di vertical niche courier membawanya pada posisi sekarang sampai pandangannya tentang startup yang sukses seperti apa. (sejujurnya , ini salah satu tulisan tersulit yang saya buat karena Intan berbicara sangat cepat dan saya biasanya tidak ingin kehilangan satu detil pun dari apa yang disampaikan oleh founder).

 

Bisa sih kita gaji para kurir ini dengan rendah, mereka juga mau, tapi terus kamu nggak didoain sama  mereka gitu ?

 

Bisa dijelaskan siapakah Intan Saraswati?

Background saya awalnya adalah courier industry. Di Fedex, benar-benar memulai dari awal sekali, di bagian customer service sekitar tahun 2004-2005. Saya sendiri kuliah tahun 1998, kemudian magang di berbagai tempat. Dari sanalah saya belajar banyak soal kurir. Untuk customer service sendiri memang kita dituntut untuk mengerti secara detail dari sisi operation dan sebagainya. Jadi, saya benar-benar mempelajari hal tersebut di Fedex. Dari sana, saya di-challenge untuk menjadi AE. Lalu, pindah ke DHL pada tahun 2004-2005 . Total sekitar sembilan tahun bergelut di dunia courier.

Saya bekerja di Fedex hanya sekitar dua tahun, sisanya di DHL. Banyak hal yang saya pelajari, apalagi dalam sebuah perusahaan besar pastinya sudah memiliki sistem yang berjalan secara penuh, produk juga sudah berjalan. Pada saat itu mungkin saya yang terlalu kreatif. Dulu, karena saya menghandle banking customers, sebagai contoh saya deals dengan HSBC atau Citibank, klien yang sudah global contract harus menggunakan DHL.

Tiba-tiba mereka meminta dokumen dikirimkan dari Kelapa Gading ke Bapindo dalam waktu dua jam saja. Sementara DHL kan tidak bisa, paling tidak memerlukan waktu satu hari. Hal tersebut yang di-challenge kepada saya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Untungnya posisi saya saat itu di DHL membuat saya lebih bebas untuk bisa berkreasi dan menciptakan solusi khusus untuk customer. Mulailah kita kembangkan project2 tertentu. Biasanya kita bekerja sama dengan vendor-vendor dan mencari kurir lokal dan kita pekerjakan. Sempat ada project besar DHL di HSBC, kalau ada kartu kredit kan ada point rewards yang ditukar voucher, di mana kita memegang warehousenya. Di sana, saya menghandle lima belas perusahaan kurir dan mereka secara performance masih bisa dibilang kurang memuaskan. Mulai dari reporting dan sebagainya tidak dilakukan dengan baik. Sampai pada akhirnya saya mengerti kalau ingin memiliki kurir yang sesuai, kita harus membentuk mereka dan melakukan sejumlah hal. Tapi, kemudian saya berpikir bahwa saya selalu mengajari orang lain karena memiliki knowledge di sini, marketnya besar sekali, harusnya banyak yang bisa dilakukan tapi tidak banyak yang mengerti hal ini. Kenapa saya tidak mencoba untuk membuat sendiri?”. Dari situlah saya memutuskan untuk keluar dari DHL dan membuat perusahaan sendiri.

 

Apakah anda masih di DHL? Belum pindah ke Sitti ya? 

Belum. Jadi, pada akhirnya saya memutuskan keluar dari DHL karena mau membuat courier service yang “ini” (Kirim.co.id). Sebenarnya, niat saya keluar dari DHL adalah untuk serius mengerjakan company ini. Apalagi, tidak diperbolehkan untuk membuat perusahaan sendiri. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar. Tapi, yang namanya startup adalah di mana gaji saya digunakan untuk membayar kurir, misalnya saya tidak bekerja sama sekali sementara pemasukannya masih belum terlalu banyak, maka akan sulit. Kemudian, saya pun ditawari oleh Sitti. Saya pun menyetujui dan mengatakan bahwa saya juga memiliki perusahaan (Kirim.co.id) dan bekerja di Sitti sambil menjalankan Kirim.co.id.

Di Sitti, saya belajar banyak e-commerce. Di sini, saya melihat bahwa orang-orang e-commerce tidak mengetahui dunia pengiriman, logistik, dan sebagainya. Mereka melihat logistik itu tidak mudah, yang menurut mereka sulit adalah hal mudah bagi saya. Jadi, saya memberikan solusi dan kemudian mengembangkan apa yang saya rencanakan. Sampai pada akhirnya, saya merasa kerjaannya nggak selesai-selesai kalau saya masih tidak focus di satu tempat. Akhirnya saya memutuskan keluar juga dari SITTI dan terjun dengan dua kaki di dunia entrepreneur.

Berarti sudah keluar dari Sitti dan DHL juga ya?

Sudah dari dulu. Awalnya, saya keluar dari Sitti memiliki keinginan untuk mendapatkan investor terlebih dahulu supaya bisa jalan. Tapi, kalau sistem atau kantor tidak selesai-selesai, saya pun memutuskan untuk harus bisa jalan ada ataupun tidak adanya investor. Sempat vakum empat bulanan lebih, sampai akhirnya saya baru mendapatkan investor. Investor saya sendiri, Angel Investor, posisinya lebih memberikan advice ke kita. Selama ini, saya sendiri. Tidak ada partner yang bisa diajak bertukar pikiran. Lalu, saya pun mengajak co-founder, Eriawan (@Eriawane). Dia rekan saya ketika saya masih di DHL. Dia memiliki capability di bidang operation. Memang, sebenarnya harus ada orang yang bisa membantu saya namun juga mengerti courier industry. Setelah ada investor, Mulailah kita berbenah dan menjalani dengan serius, dalam arti memiliki kantor yang tetap, membangun sistem, kurir juga mulai diberikan seragam, diberikan motor dan sebagainya. Posisi yang lain juga sudah terisi. Sementara dulu, saya hanya bertiga. Sekarang, sudah mulai banyak dan timnya sudah komplit sehingga menjalankannya pun lebih mudah.

Sekarang timnya ada berapa?

40 orang. Kurirnya ada 25 orang. 15 sisanya. Sales marketing hanya dua orang. Finance ada dua orang, satu orang di bagian HR, lima customer service, sisanya adalah orang-orang operation (dispatcher). Ya, timnya memang terdiri dari orang-orang yang bekerja di bagian-bagian penting saja.

Bagaimana anda melihat dunia kirim-mengirim ini? Lalu, masalah apa yang sebenarnya dihadapi oleh e-commerce di Indonesia?

E-commerce, saya melihat gap teknologi yang cukup besar. Dari sisi e-commerce, mereka sudah terbiasa dengan segala macamnya menggunakan teknologi. Mereka berjualan online. Sekarang, kalau kita mau mengirim barang, pastinya kita mendapatkan waybill atau surat tanda bukti pengiriman. Sehari, oke untuk menulis satu atau sepuluh tanda bukti pengiriman. Tapi, kalau sudah sampai ribuan tentunya rusuh. Kalau untuk perusahaan kurir yang besar, DHL atau Fedex, mereka sudah memiliki program seperti itu. Jadi, anda ketik maka nanti akan keluar hasilnya tanpa harus menulis dengan tangan. Kalau yang lokal masih belum banyak memiliki program yang seperti itu. Mungkin, ada satu atau dua. Tapi, biasanya mereka tidak membagikan itu kepada customer yang levelnya belum terlalu besar. Pekerjaan manualnya masih banyak. Itu masalah yang pertama.

Yang kedua, mungkin masalah tracking. Sekarang, kalau kita mau mengirim barang, misalnya melalui JNE, dan kita ingin melihat barang yang kita kirim sudah sampai dimana, tentunya kita perlu membuka website JNE. Padahal, sebenarnya hal-hal tersebut dapat di-implant masuk ke sana. Hanya saja perusahaan-perusahaan besar seperti DHL, terkadang mereka sudah memiliki sistem tersebut namun mereka tidak bisa membuka link yang akan diberikan kepada customers, kecuali customer yang revenuenya besar sekali.

Saya melihat ada gapnya yang besar. Sebenarnya bukanlah masalah yang sulit, saya sendiri memiliki solusi untuk memecahkannya. Akhirnya, saya mengumpulkan rekan-rekan di bidang kurir (selain Kirim.co.id yang saya kerjakan). Jadi, saya menggunakan service mereka untuk tarif domestik dan internasional. Di tengah, saya membuat API.

Passionnya Intan sebenarnya apa ?

Delivery.

Rasanya kok tidak keren ya kok passion di dunia pengiriman.

Mungkin juga karena saya selalu merasa happy kalau masalah dari customer selesai.

Yang terpenting, solusinya sekarang adalah kalau hanya menjual pengiriman atau kurirnya saja sudah banyak. Almost every courier company juga seperti itu. Tapi, kalau yang anda jual adalah solusi, customer anda maka akan lebih loyal karena mereka mungkin merasa pernah ditolong. Itulah pengalaman yang saya dapatkan dulu. Jadi, selama saya memegang banking karena biasanya mereka meminta apapun yang pada akhirnya saya mampu memenuhinya. Setelah itu, merekalah yang mencari saya karena mereka merasa puas. Kalau saya sendiri mengatakan bahwa kirim.co.id adalah solusi pengiriman untuk pribadi ataupun e-commerce.

Passion-nya itu mungkin ya … “memecahkan masalah.”

 

Kisah inspiratif di balik pendirian Kirimcoid

 

Perjalanan mencari investor seperti apa?

Awalnya, saya membuat ini idealis sekali. Jadi, saya tidak berencana ada investor dan sebagainya. Jadi, saya berpikir akan membesarkan ini kalau dananya sudah ada. Hanya saja, setelah melihat perkembangan ke sana ke sini, jika saya tetap self funding terus. Seperti di tiga tahun terakhir ini, perkembangannya sangat slow sementara saya perlu membuat sistem dan semacamnya, di mana tabungan saya sudah habis-habisan. Dari situlah saya mulai merasa perlu ada bantuan investor. Selanjutnya saya mulai mencoba bergaul dengan startup / entrepreneur lainnya.

Pertama kali saya melaunching “DC” (nama sebelumnya adalah De Courier, sebelum berganti nama menjadi kirim pada bulan Oktober). Pada acara Mekar Entrepreneur Network. Ternyata lumayan ramai, yang lainnya kan startup dotcom yang foundernya geek culun-culun orang-orang internet yang selalu bawa laptop. Sementara kita jreng perusahaan kurir sendirian, isinya perempuan semua.

Booth saya dihias pakai newspaper, saya bawa adik-adik saya dari Bandung saya modalin salon dan blazer warna warni. Ramai deh dan beda sendiri.

Saat itu Gojek dan SITTI baru masuk GEPI cuma saya telat tidak tahu ada acara GEPI.

Di situlah ada investor-investor yang mulai approach, termasuk Angel Investor, VC. Baru pertama kali mempelajari business plan, ketika saya bergabung di Mekar dan diberikan templatenya baru ngeh selama ini tidak pernah buat business plan.

Sempat pitching dengan beberapa VC tersebut, hanya saja offeringnya tidak ada yang cocok. Beberapa belum apa-apa sudah minta mayoritas, saya melihatnya seperti mengambil cita-cita saya, itu ngeyelnya saya. This is my company, kalau share saya sedikit ya saya merasa jadi karyawan. Tentu saja saya tidak mau.

Ada juga yang ingin invest, namun ingin merubah model bisnisnya, ingin masuk ke trucking, logistics segala macem, tentu saya tahu kapasitas saya. Karena sebenarnya kapasitas saya adalah di kurir. Kalau saya harus mengerjakan trucking domestic dan sebagainya agak terlalu besar. Memang, saya yakin mampu melakukannya tetapi itu bukan expertise saya. Saya tidak ingin bermimpi terlalu banyak dan lebih memilih untuk melakukan apa yang saya mampu lakukan karena target saya adalah e-commerce. Kalau saya sudah memasuki trucking by sea dan by air, dan sebagainya, maka dunianya akan lain lagi dan akan jadi bisnis model yang berbeda.

Banyak yang menawarkan, tapi memang tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya merasa hopeless dan tidak berniat memakai investor dan berusaha sendiri deh, kalau perlu jual rumah. Mobil sih sudah jelas disekolahin lah ya.

Untungnya sebelum makin heboh lagi, ada Angel Investor masuk dan mereka memiliki visi yang sama sementara mereka lebih banyak mendukung dan menguatkan saya. Barulah kami bekerja sama dan berjalan bersama-sama.

 

Pada akhirnya startup yang sukses adalah yang menginjak bumi

 

Jadi, memang kalau investor menginginkan mayoritas seolah-olah mengambil mimpi founder ya?

Kalau menurut saya seperti itu. Kecuali kalau memang apa yang mereka berikan itu bukan hanya uangnya, tapi ada yang lain-lainnya yang dapat divaluasi. Saya sendiri agak bawel kalau ada investor yang ingin masuk dan ingin berpartisipasi dalam management, mereka harus tahu batasan mereka. Saya tidak ingin segala macam kegiatan operasional saya, diikut campuri oleh mereka. Kecuali, kalau mereka memang mengerti. Tapi, jika mereka yang suka merubah segala macamnya, lebih baik mereka stay away kecuali memang punya ilmu di situ, karena kalau menurut saya dunia kurir adalah 60%-70% experience, sementara sisanya adalah knowledge. Kan ada itu sekolah manajemen transportasi, tetapi saya mendapatkan semua pelajaran ini dari learning by doing dari trial and error dengan menjalankan, termasuk dari pekerjaan saya di DHL dan Fedex, dan berhubungan dengan city courier yang mengurusi bagaimana ini barang sampai dari A ke B dalam waktu 2 jam. Sudah jalan Tuhan.

Bagaimana pendapat anda tentang founder-founder yang baru? 

Segala sesuatunya, belajar teori dan praktek itu beda. Belajar naik sepeda kalau sudah baca bukunya 10x tapi tidak melakukan, tetap sama saja hasilnya.

Kalau menurut saya, If you would like to build a company, setidaknya anda perlu belajar di satu company terlebih dahulu. Mempelajari sistem yang sudah ada di sana. Jadi, anda bisa melihat cara membangunnya seperti apa, trial and errornya seperti apa, hal-hal yang tidak ada di buku.

Saya pribadi banyak belajar mengenai ilmu pengiriman ketika di Fedex karena mereka mendalami sekali soal sistem, operasional dan lain sebagainya. Banyak di dalam sistem kami sekarang itu di-implement dari Fedex.

Tapi, kalau mengenai sistem operasional perusahaan, manajemennya, data atau reportnya harus seperti apa, itu saya pelajari di DHL. Itulah yang priceless dari mereka.

Ketika saya masuk ke dalam suatu Startup, sistemnya tidak ada, data tidak ada, mau tanya top 10 customernya siapa saja, tidak bisa dijawab.

Dulu, ada one of CEO startup, founder ini sudah memiliki kantor yang bagus, dia nanya “DC jualannya gimana ?” oh kami ada corporate dan personal, “oh ya kalau mau masuk corporate gimana caranya ya? Jualannya gimana?.”

Gemes aja rasanya.

Mungkin karena rata-rata masih pada muda.

Ada beberapa dari mereka yang pintar, mungkin sewaktu sekolah di luar pernah magang. Tapi ada juga yang masih benar-benar hijau kemudian asal masuk ke dunia ini dan membuat valuasi tinggi sekali.

Ngomong-ngomong investor, sewaktu saya membuat business plan (sampai versi ke-7 saya baru dapat investor, dan ngerubah angkanya banyak banget), saya memasukkan angka yang achievable berdasarkan pengalaman saya dulu-dulu. Tapi ada investor bilang agresif, kalau saya masukkan kekecilan dibilang pesimis. Sewaktu bagian ngitung valuasi, diajarin cara ngitung valuasi, ternyata harusnya beda dari perhitungan saya. Wah prosesnya panjang.

Pada akhirnya startup yang sukses adalah yang menginjak bumi, sudah tahu potensinya seperti apa, kecilin dikit deh, karena kalau sudah eksekusi dan angkanya tidak kejadian kan kita sendiri yang pusing mempertanggungjawabkannya, yang achievable dulu aja, kalau lebih ya syukur.

Kisah Inspiratif di balik pendirian Kirim

Eriawan dan Intan Saraswati, 2 cofounder Kirim.co.id

 

“Oh iya ..”     kata pembukaannya teteh sih biasa banget…

“Jadi tuh gini….”

… matanya terus merah … semua langsung diem

Terus teteh nangis deh  …

 

Sudah pitching ke berapa investor?

Sebelum mendapatkan investor, kira-kira lebih dari tujuh sampai sepuluh. Dari yang pitching serius sampai yang ketemu sekali saja. Dari VC yang beneran sampai angel investor yang temennya nyokap gue.

Surprisingly, sekarang saat saya pitching ke misalnya VC atau incubator yang sudah tahu dunia e-commerce seperti apa. Sementara kalau Anda pitching dengan direktur perusahaan kontraktor yang membangun perusahaan dari nol, lalu anda meminta sejumlah dana, maka anda akan ditolak secara mentah-mentah.

Misalnya “revenue bulan depan sanggupnya 500 juta ya mesti tahan spendingnya sekian, tidak bisa ngabisin di awal duluan terus ke depannya baru menghasilkan.”

Saya bilang apa kabar yang lain-lain kalau seperti ini ?

Benar-benar di-challenge habis-habisan.

Di dunia ecommerce sekarang, kalau kita telat masuk, keduluan orang lain masuk, kan bisa kalah. Ini debatnya panjang lebar.

Saya tidak ingin investor yang buru-buru exit. Kita sama-sama memiliki visi yang ingin melihat ini gede bareng. Saya percaya bahwa yang seperti ini persaingannya memang akan sangat banyak, dari segi kurirnya sendiri. Untuk sistem yang sama seperti saya sendiri, mungkin belum ada tapi soon pasti akan dicontoh orang lain juga. Tapi, saya percaya bahwa it’s all about execution. Jadi, tidak usah terlalu mengkhawatirkan hal yang berlebihan dan kalau sampai ada perusahaan-perusahaan lain yang menyamai seperti apa yang saya buat, intinya sama-sama membangun negeri lah ya (halah gaya banget), tapi ya begitulah bareng bangun ekosistem.

Kadang-kadang pingin rasanya punya ecommerce sendiri, tapi ga ngerti soal shopping cart dllnya.

Kenapa ya passion saya delivery … (masih denial).

Tapi, ya kembali lagi ini adalah pengalaman saya. Kalau dari sisi kurirnya sendiri, yang dijual adalah “people”. Challengenya adalah mereka bukanlah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Me-manage mereka juga bukanlah hal yang mudah.

Me-manage karyawan S1 jauh lebih mudah dibanding me-manage kurir. 

Jadi, bagaimana cara memanagenya? Ini kan industri padat karya.

Ini yang learning by doing. Saya merubah struktur gaji kurir dan insentif mereka sudah sering sekali, dari segi security juga, biasanya, saat mereka masuk saya menyuruh mereka untuk meninggalkan ijazah mereka agar mereka tidak berhenti semau mereka, mereka tidak mengenal one month notice, begitupun masih ada yang kabur. Kalau  BPKB masih agak ampuh. Challengenya sendiri memang di sana.

Kami punya 25 kurir saat ini dulu pakai motor mereka, sekarang sudah punya kami sendiri. Kalau pakai motor mereka masalahnya banyak, dari kilometer tidak jalan sampai motor tua turun mesin.

Mentor bisnis anda siapa?

Saya senang mengobrol, dan berusaha untuk networking. Tapi dari hasil psikotes saya sih katanya anti social. Makanya networking buat saya adalah pembelajaran juga.

Saya juga senang membaca artikel startupbisnis, entrepeneur.com atau membaca buku Donald Trump yang “Think Big” kalau kamu lagi down kayak apa juga pasti semangat lagi.

The thing about being a founder, apalagi saat saya masih sendiri adalah ketika anda bekerja dengan orang lain, ada ketakutan sendiri mulai dari reporting segala macamnya. Sementara untuk entrepreneur sendiri tidak ada, adanya masalah besok tidak ada uang, kadang juga lagi down, cashflow kering, besok bayar gaji kurir gimana? Hal ini yang tough untuk saya, kalau sudah begini saya mencari motivasi dari internet. Melihat success story dari orang lain.

Kadang ingin punya business coach tapi tidak tahu nyarinya di mana.

Kalau mentor.. mungkin ya.. saya kan beberapa kali pitching ke venture capital dan incubator, walaupun tidak deal, tapi kami berlanjut jadi teman, kalau pas ketemu mereka nanya kabar startup saya, terus mereka suka cerita bisnis pengiriman di negara lain seperti apa … mungkin yang bisa disebut mentor saya ya rekan-rekan yang seperti ini ya..

Pendirian D-Courier

Karena menurut Feng Shui, 9 November 2008 adalah tanggal yang bagus, jadi saya paksakan untuk membuka kantor pada tanggal itu. Ukuran kantornya sendiri 3×6. Pada saat itu, saya meminta kurir saya datang ke kantor dan melakukan renovasi. Seru deh, kita masuk sabtu minggu buat rame2 bersiin ‘kantor’, ngecat dinding dan pager, masang meja, dll. ketika saya ingin membeli white board, saya tidak memiliki cukup uang. Kemudian, saya browsing dan menemukan triplek yang menggunakan bahan melamin. Ternyata, melamin ini adalah bahan dasar untuk white board. 1 meter hanya 50 ribu ya sudah semua dinding saya pasang melamin.

Kurirnya sendiri baru ada lima. Memang, kita sempat memegang project HSBC. Awalnya, saya bersama dengan adik saya mengerjakannya dan dibantu dengan satu orang di bidang operation Di tempat itu hanya sekitar kurang lebih satu tahun. Kemudian kontrak HSBC habis, saya tidak punya duit untuk bayar berikutnya, saat itu saya ngekos di Mampang Prapatan, untung ruang tamu besar, jadi setiap malam kurirnya datang.

Ada bank minta dokumennya diambil malam dan dikirim pagi sebelum jam 8, tidak ada kurir lain yang bisa karena yang lain baru jalan jam 7, sedangkan kurir saya jam 6 pagi sudah jalan. Jadi tiap malam kurir ngumpul di kos saya bagi-bagi dokumen, kalau tidak sempat pagi-pagi bangun untuk bagi-bagi dokumen, jadi pagi-pagi buta jam 6 pagi, masih pakai daster, kurir ngetok pintu “bu, mau ambil dokumen.”

Sampai diusir ibu kos, karena tiap malam ramai kurir 5-7 orang.

Habis itu ke mana ya ? ngontrak rumah di tebet. Rumahnya rada lumayan, bisa lewat 1 mobil, muat parkir 1 mobil dan motor. Ruang tamu dan sebagian rumah jadi kantor, saya pake kamarnya aja. Kontrakan abis, pindah ke apartemen. Sewa apt dengan 3 kamar, 1 kamar dan dapur/ruang tamu jadi tempat kerja kurir. Jadi waktu itu isinya ya gitu aja, keleleran tiap pagi, kalau bangun kesiangan kurir ngetok pintu dan saya baru bangun masih dasteran, sementara kurir udah seliweran di gang… pada saat Sudirman Park sudah memasang access card, kurir saya kesulitan masuk, jadi mau tidak mau harus pindah.

Karena itu, akhirnya saya memutuskan untuk pisahkan kantor dan rumah. Waktu itu ada teman yang berbaik hati menyediakan space untuk saya dan beberapa staff di STC senayan, namanya Williambotak alias WilliamHenley.

Kemudian saya mendapatkan investor dan kemudian mencari rumah sendiri. Hal ini dikarenakan tujuannya adalah operasinya kita adalah 24 jam. Kalau menggunakan gedung kantor, tentu saja memerlukan biaya overtime. Sementara kalau menggunakan ruko, untuk tempat parkirnya sendiri tidak terlalu besar. Jadi, saya sendiri saat ini tinggal di daerah Kemang untuk dua tahun ke depan. Untuk ukuran Kemang cukup murah, tapi rumah lama jadi ada hantunya.

Cukup lama juga ya dari tahun 2008 dan tidak pindah ke ide yang lain, tetap di delivery saja ya.

Iya. Ngeyel ya ?

Selama ini cita-cita saya di bidang kurir memang banyak. Hanya saja selama ini tidak pernah terealisasi karena idenya ada namun dananya tidak mendukung. Sistem yang saya pikirkan dan ingin saya buat, baru bisa di-built sekarang. Seperti kurir menggunakan GPS, adalah cita-cita saya dulu namun baru bisa diterapkan sekarang.

Saya pernah mendengar dari beberapa VC yang bilang, banyak founder yang startupnya belum ada apa-apanya bahkan idenya biasa saja tetapi sudah banyak gaya, di sisi lain banyak juga founder yang “tidak kelihatan” tetapi mereka menjalankan startupnya dengan sepenuh hati, fokus tetapi tidak banyak omong. Mungkin orang seperti Intan ini yang termasuk tipe ke-2, dari rumah kos diusir bolak balik ..

Mungkin ya.. kemarin saya nangis bok, waktu kami relaunch website Kirim di awal Desember 2012, kami hanya launching website “der” ya udah gitu aja, trus kita rayakan satu kantor nonton film “Premium Rush” yang tentang kurir sepeda, bahkan secara sistem mirip, makanya saya ajak kurir, lalu makan, pas ngobrol-ngobrol …. nengok kiri kanan …. gila banyak banget gini orangnya, dulu saya bayar gaji kurir setengah mati deg-degan, aduh duitnya mana ??? kalau invoice telat saya tidak bisa bayar gaji saya jadi saya harus mengorbankan gaji saya, kalau sekarang saya sudah bisa mengajak mereka makan pakai uang sendiri… kurirnya juga seneng banget mukanya karena saya bisa bayarin mereka makan malam…

Laras  (Laras adalah salah satu tim Kirim yang ikut interview) :

Mas Eri di makan malam itu memberi pembukaan tentang kenapa hari ini kita ngobrol-ngobrol, setelah itu yang lain pesan makanan, semuanya santai, terus mas Eri ngomong “Teteh Intan mau bicara… ada yang mau disampaikan ?” …

“oh iya ..”     kata pembukaannya teteh sih biasa banget…

“jadi tuh gini….”

… matanya terus merah … semua langsung diem …

Terus beneran nangis deh  …

Di acara launch website kita ke media di Desember 2012, kita bener-bener mikirin supaya gimana teteh Intan jangan nangis sewaktu presentasi.

Ya kita semua ngerti sih karena teteh dulu memulainya dengan sulit.

 

Memang passionnya dari dulu mungkin di pengiriman …

Memang itu passion ya…?  passion itu harusnya di sepatu ya :p

Saya merasa, kalau liat perusahaan kurir lokal, mereka menggaji kurir sangat jauh di bawah UMP setengah pun tidak kadang-kadang. Bayangkan kamu gaji 600 ribu, kerja di Jakarta, rumah di Depok, how can you survive ? banyak banget perusahaan kurir seperti ini .. salah satu misi saya adalah saya tidak mau melihat kurir saya susah… dulu saya memang bisa memberikan mereka pas pasan, saya tidak beri asuransi tetapi kalau mereka sakit saya gantiin dari duit kantor atau pribadi pokoknya saya gantikan.

Sekarang sudah UMR dan ada plus lagi, sekarang kalau diranking gaji kami sekarang dibanding perusahaan kurir lain yang sudah agak besar dan berusia 30 tahun lebih, itu sama. Perusahaan kurir lain benar-benar memberikan harga rendah kepada customer dengan cara memberikan gaji sangat rendah kepada kurir yang untuk saya tidak masuk akal, misi saya memang tidak mau membuat hidup kurir saya susah, bisa sih kita gaji mereka rendah, mereka juga mau, tapi terus kamu tidak didoain sama  mereka ? saya sih tidak begitu aja..

Hari Jumatnya, saya harus menemui 42 kurir saya bahwa mulai hari senin mereka harus berhenti dan tidak ada pesangon. Mau ape lu ?

42 orang.

Isinya ada bapak-bapak kelahiran tahun 60 yang ijazahnya segede gambreng yang begitu kita kasih tahu mereka dipecat, mukanya udah bengong tidak tau mau ngapain.

 

Yang bisa disebut tipping point saya adalah pada saat masih di DHL. Jadi, saya sempat ada project dengan bank lokal dimana kita bertugas untuk mengantarkan dokumen ke kantor cabang mereka. Di Jakarta sendiri, kantor cabangnya ada 300 cabang. Jadi, saya sudah membuat projectnya dan memberikannya dalam bentuk “orang” perbulan dan sudah tidak menghitung lagi dalam bentuk per dokumen.

.
Maksud dari “orang” ini apa ya?

Project saya ini waktu saya masih di DHL. Maksudnya kita memberikan kepada mereka, costing projectnya, dihitung berdasarkan headcount, bukan per dokumen. Mules saja kan kalau ngitung jumlah ada 1000 dokumen dari Sudirman ke Kuningan, jadi yang dihitung per orang yang dibuat routingnya.

Waktu itu saya memasukkan 42 orang. Sementara, budget mereka sedikit sekali. Sebenarnya, mereka sudah memiliki vendor yang mengerjakannya selama lima tahun. Tapi, karena saya ngeyel saya pun ternyata berhasil menang di tiga detik terakhir, tapi angkanya turun sekali. Lalu, saya bertukar pikiran dengan atasan saya dan memutuskan untuk squeeze gaji kurirnya. Dengan bermodalkan “nekat”, kita pun menjalankan project tersebut dengan mengambil kurir di berbagai tempat. Memang, performancenya tidak terlalu bagus tapi itulah yang menjadi pelajaran pertama saya mengenai managing people, organizing, routing dan sebagainya. Saya bukan orang Jakarta, saya orang Bandung yang baru ke Jakarta.

Dan karena masih sama-sama belajar, untuk performancenya sendiri masih 70% yang on time delivery. Bulan kedua, sudah mengalami peningkatan dan naik menjadi 80%. Bulan ketiga hampir mencapai 90% .

Tetapi ini bank walau sudah ada code of conduct tidak boleh nyogok, ternyata masih saja ada “begitu-begituan.” Karena saya masih di DHL, bersih sekali tidak ada acara sogok menyogok, ternyata kurir company yang melayani mereka sebelumnya ada sogokan.

Jadi digangguin lah saya sama orang bank ini.

Yang namanya hand over dari kurir pertama ke kurir kedua harusnya klien memberi contact person dokumen mau dikirim ke mana, nah datanya ini tidak ada. Data yang dikasih sewaktu saya samperin, itu data 2 tahun lalu.

Kemudian saya mendapatkan panggilan dari vice president dari grup tersebut. Saya sama bos saya ditunjuk-tunjuk diomeli 3 jam. Waktu itu hari kamis, dia bilang hari Senin service kami akan dihentikan.

Hari Jumatnya, saya harus menemui 42 kurir saya bahwa mulai hari senin mereka harus berhenti dan tidak ada pesangon. Mau ape lu ?

42 orang.

Isinya ada bapak-bapak kelahiran tahun 60 yang ijazahnya segede gambreng yang begitu kita kasih tahu mereka dipecat, mukanya udah bengong tidak tau mau ngapain.

Melihat muka mereka seperti itu, dalam hati saya, saya berpikir someday mereka harus saya pekerjakan secara adil. Kalau project mereka diterminate tiba-tiba, jangan hidup mereka jadi susah tiba-tiba tidak kerja. Makanya orang-orang saya yang 5 orang pertama memulai De Courier (nama sebelum kirim.co.id) adalah dari 42 orang ini yang saya panggil lagi.

Ini bukanlah pengalaman yang anda bisa temukan di buku manapun, perasaan memecat 42 orang di saat yang sama, mereka semua cowok dan lebih dari separuh kepala keluarga yang malam harinya bilang ke bininya “bok, gw dipecat bok.” Bukan dipecat sih, tapi karena projectnya di-terminate dan tidak kerja lagi. Karena angka projectnya kecil, kita tidak bisa spare margin 1 bulan  untuk mereka, yang ada dipotong kalau telat kirim, minus margin jadinya, belum saya dimarahin sama bos saya.

So hard ya kerja di industry Padat Karya ?

Social preneur sama tidak ya ? enggak juga ya.

Bayangkan gaji kamu sejuta, istri satu (tapi ada sih kurir saya istrinya 3, pingin saya marahin) harus bayar bensin, transportasi, terus tiba-tiba tidak kerja kan gimana ?

Saya sih tidak mau jahat sama kurir saya supaya mereka mendoakan saya. Ketika sedang briefing pas jaman ngampar di dapur apartement, “doain ya saya lagi jarang di kantor karena lagi nyari investor, kalau ada investor kita bisa punya kantor, kalian tidak susah dan syukur-syukur gaji kalian bisa lebih layak, asuransi kesehatan dulu tidak ada” jadinya mereka mendoakan saya.

Sampai pada akhirnya, saya berhasil mendapatkan investor, dan kita berhasil membangun kantor sendiri. Kurir-kurir saya yang dari awal bekerja dengan saya pastinya merasakan sekali bagaimana sulitnya membangun bisnis ini dari awal sampai pada akhirnya kita memiliki kantor sendiri.

Tadinya, saat kita launching, saya tidak ingin melaunching secara besar-besaran karena tidak ingin dianggap sebagai another startup yang cuma buang-buang uang investor. Saya hanya berniat untuk menjadikannya sebagai media launch supaya orang tahu bahwa saya secara personal memiliki this kind  of services,  karena. DC sendiri sebenarnya ada 4 tahun terakhir, hanya saja tidak diketahui oleh banyak orang karena kami tidak banyak melakukan promosi, bahkan websitenya d-courier.com dibuat gratis.

Rencana anda ke depannya seperti apa?

Kalau melihat Jakarta macet seperti sekarang ini, harusnya service seperti kita yang mengambil barang atau memesan makanan bisa menjadi solusi yang which is sedikitnya mampu mengurangi kemacetan di Jakarta. Mimpi ke depannya adalah saya membayangkan Jakarta di tahun 2000 sekian sudah diisi oleh orang-orang dari kurir. Kalau melihat dari business modelnya, seperti model bisnis kita yang sekarang ini yang personal ataupun yang e-commerce, jika ingin diterapkan di kota lain atau di negara lain bukanlah hal yang sulit.

Kemarin-kemarin juga banyak yang mempertanyakan kapan saya akan membuka cabang di tempat lain. Saya sendiri masih berusaha untuk memaksimalkan yang ada di sini terlebih dahulu. Kalau kita sudah mencapai kata “sangat bagus”, baru saya berani untuk bermain di tempat yang lain. Kedua, saya memiliki data. Maksudnya, semua barang yang dikirim melalui JNE, Tiki dan lain sebagainya, datanya secara otomatis ada di saya. Dari situ, saya bisa melihat jalur yang banyak digunakan dimana. Misalnya, pengiriman yang banyak tujuan dari Jakarta ke Denpasar. Kita bisa membuka cabang di sana. Tapi, sebenarnya permasalahannya sendiri terletak pada kurir network. Seringkali mereka belum bisa memenuhi targetnya, seperti deliverynya terkadang baru sampai dua hari atau tiga hari selanjutnya. Terkadang juga mereka harus mencari alamat dari si penerimanya. Inilah yang seringkali dialami oleh si kurir lokal. Inilah alasan mengapa setiap kurir saya berikan GPS. Dengan menambahkan satu fitur itu saja, nilai productivity-nya meningkat tajam.

Ada prinsip lainnya yang ingin disampaikan? 

Percayalah pada fengshui, eh bukan.

Kalau saya, selalu percaya impossible is nothing. Maksudnya adalah kalau Anda fail akan sesuatu, bukan berarti anda gagal karena anda tidak bisa. Tetapi, karena ada sesuatu yang belum anda kerjakan. Kalau anda ingin mencapai A, lalu tidak berhasil, bukan berarti anda tidak akan berhasil seterusnya. Pasti akan ada jalan lain.

Advertisements

About Made Sumitre

Saya hanya menulis dan membagikan apa yang sudah pernah saya baca.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

header

Timnas Indonesia Tim Sepakbola Nasional Indonesia mengenakan kostum baru yang diluncurkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.... Baca selengkapnya »

Anak Indonesia jadi siswa terbaik sekolah MU Anak Indonesia dari pasangan perkawinan campur, Jack Brown (11),.... Baca selengkapnya »

Timnas AFF Kuartet pemain Indonesia yang bermain di klub CS Vise di Divisi II Liga Belgia, yakni Syamsir Alam.... Baca selengkapnya »

TImnas IndonesiaPelatih Timnas PSSI, Nil Maizar, mengaku telah menemukan bentuk permainan timnas… Baca selengkapnya »

Blog Stats

  • 351,565 hits
%d bloggers like this: